Ngaso #12: Bayi Aktif

tenaga kerja asing

Entah ada angin apa, Wak Kopleh pagi itu sambang ke rumah Cak Ri. Kebetulan, Cak Ri, Ning Tin, dan Jojo lagi asyik main di halaman ciut muka rumah. “Lha, Jojo sudah bisa jalan, tho?” Wak Kopleh bertanya, padahal sudah lihat sendiri Jojo melangkah enam-tujuh jangkah. “Ya, begini ini, Wak. Baru belajaran. Terantanan,” sahut Cak Ri.

Wak Kopleh lantas bertanya usia Jojo. Dijawab lugas oleh Ning Tin: sepuluh bulan. “Lhuk, kok wes isok mlaku yo?!” lanjut Wak Kopleh. Dia semakin heran saat melihat Jojo yang begitu lincah bergerak dan ngoceh. “Dia ini bayi aktif. Bayi pintar. Cepat belajar. Jarang ada bayi sepuluh bulan semaju ini perkembangannya,” seloroh Wak Kopleh sambil mencium pipi Jojo lantas menggendongnya.

Kemudian, tanpa diminta, Wak Kopleh ceramah sendiri. Dia mengatakan, meski Jojo tergolong bayi pintar karena bocah seusianya kadang belum banyak progres, bukan berarti orang tua bisa bangga. Sebab, tidak ada yang tahu masa depan.

“Orang tua tidak perlu membanggakan anaknya. Kan, masa depan anak, kalau sudah dewasa bagaimana, tidak ada yang tahu. Bagaimana kalau ternyata anak yang pintar di masa kecil, pas sudah besar ternyata nakalnya bukan main?! Maka itu, orang tua mesti bisa menahan diri,” ungkap dia sambil bercanda dengan Jojo yang ada digendongannya.

Cak Ri dan Ning Tin memilih tersenyum kompak. Lantas, Wak Kopleh berujar lebih lanjut soal menyayangi anak secara proporsional. Anak tidak boleh dimanja. Tapi, harus didik, supaya tidak manja. Menyayangi anak, harus ada batasannya. “Jangan sampai anak terbiasa kita kasih enak terus. Nanti dia suka merengek. Kalau anakku yang suka merengek pada bapaknya, ya langsung aku jewer saja. Tapi, njewernya jangan sakit-sakit. Sekadar untuk pelajaran,” Wak Kopleh seperti belum menampakkan tanda-tanda berhenti berkhotbah.

Dia mengutarakan, kerap heran dengan aturan zaman sekarang yang seakan menggariskan, kekerasan fisik pada anak mesti dihentikan. Karena, pada suatu titik, “main tangan” itu perlu juga. Hukum, tambah dia, makin aneh saja.

Sebagai contoh, batasan usia seseorang disebut anak. “Kalau tidak salah, sampai usia SMA. Sekitar 17 atau 18. Atau sekitar itu lah. Lhah dalah, padahal, usia 15 tahun pun seseorang sudah bisa membedakan yang baik dan buruk. Bahkan, sudah bisa bereproduksi untuk menghasilkan keturunan. Masak, masih disebut anak-anak!?” papar dia.

Kalau sudah demikian, aturan hukum pun jadi bias. Orang-orang “semi” dewasa itu pun bisa main alibi. Alamak! Sistem benar-benar bengkok!

Sepertinya, Wak Kopleh sudah puas berbicara. Dia lantas mengembalikan Jojo ada Cak Ri. Mengucap salam, dan berlalu. Sedangkan dua pasutri yang ditinggalkannya, bersitatap dan sama-sama menggeleng diiringi senyum.

BACA JUGA:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here