RESENSI: Teguran buat Yang “Mendadak” Penceramah

Tebal: 60 halaman, isi lima puluh judul puisi, ISBN: 9786026011404

Resensi ini dimuat di koran Jawa Pos edisi 25 September. Dimuat lagi di sini bagi mereka yang belum membacanya.

Sejak kapan spiritualitas menjadi topik utama dalam penulisan puisi? Spiritualitas justru menjadi salah satu pilihan arus utama. Sebab, ia bisa menjadi senandung pujian terhadap sang pencipta, salah satu tema yang kerap menjadi favorit para penyair.

Dengan sendirinya puisi bertema spiritual sama tuanya dengan kelahiran spiritualitas itu sendiri.

Di Indonesia, puisi-puisi bernapaskan spiritual bisa ditemui dalam karya-karya pujangga Indonesia, antara lain, Mustofa Bisri alias Gus Mus, Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, Taufik Ismail, dan Zawawi Imron.

Dalam sastra dunia, penyair Persia abad ke-13 Jalaludin Rumi selalu menjadi referensi utama melalui kumpulan puisi “mistis” Masnavi.

Tak hanya di Timur Tengah, kegairahan yang sama terhadap spiritualitas juga dituangkan penyair Inggris abad ke-17 John Donne dalam karya-karyanya. Jika Rumi menjadikan kecintaan kepada Tuhan sebagai gairah kepenyairannya, tidak demikian dengan Donne.

Syair-syair Donne lebih banyak berisi kritik terhadap “amalannya” sendiri. Juga untuk menyindir orang lain meski dia selalu menggunakan dirinya sebagai simbol “manusia” terhadap Tuhan Jesus. Seperti yang dia tuliskan dalam Holy Sonnet 11 berikut ini.

They kill’d once an inglorious man, but I

Crucify him daily, being now glorified.

Dalam syair tersebut, Donne mengatakan bahwa Jesus disalib karena harus menanggung dosa umat manusia, yang dengan sendirinya membuat Dia sebagai sosok “terhukum”. Donne, merefleksikan dirinya dalam puisi tersebut, setiap hari berdosa.

Dan karena dosanya ditebus, dia menjadi sosok yang “mulia”.

Tentu saja, maksud Donne dalam syair tersebut lebih bersifat sebagai sindiran. Dia mengkritik umat yang menyepelekan dosa dirinya karena menganggap dosa-dosa umat sudah ditanggung Jesus.

Dengan akarnya yang kuat dan merentang berabad-abad sebagai pilihan topik, spiritualitas selalu relevan sebagai tema utama puisi. Kehadirannya menjadi ekstase dari ruwetnya persoalan “duniawi” manusia.

Jika puisi adalah katarsis alias pembersih jiwa bagi pembacanya, maka spiritualias menjadi penyempurna katarsis tersebut.

Kurang lebih obsesi yang sama juga muncul dalam puisi-puisi Rio F. Rachman. Jika Donne membahas dalam lingkup nilai-nilai kekristenan, Rio lebih pada nilai Islam.

Dalam puisi Alam Pasrah Pada Takdir, misalnya. Rio melambangkan keberadaan Tuhan seperti kepasrahan sungai pada angin. Tak ada yang bisa dilakukan. Kecuali berdamai dengannya.

mereka mungkin ingin membantah takdir

tapi tak mampu

Spiritualitas juga menjadi tema Rio dalam puisi Kodrat. Jika Tuhan dalam Alam Pasrah Pada Takdir adalah sosok yang tak bisa dibantah, penuh kuasa, dan dominan, maka di Kodrat, sosok Tuhan terasa sebagai sosok yang sangat pemaaf.

Sifat pemaaf itu begitu besarnya hingga ia seperti samudera sedangkan dosa adalah lubang jarum.

kadang dosa dan pahala setipis lubang jarum, kata samudera

dan para laknat diterima tobatnya

Meskipun begitu, puisi-puisi Rio tidak melulu berisi perlambang kekuatan Tuhan. Terkadang dia berbicara soal umat beragama. Berbeda dengan deskripsi Tuhan yang penuh simbol-simbol kekuatan alam, umat manusia digambarkan dengan tone yang cenderung muram. Bahkan cenderung sarkastis.

Seperti dalam puisi Jengah. Puisi ini berisi kritikan untuk mereka yang “mendadak penceramah”. Mereka yang menemukan kegairahan baru terhadap agama tapi seolah sudah belajar agama selama puluhan tahun.

kawan yang baru belajar mengeja bahasa arab,

bergaya lihai lontar petuah

Seringkali, setiap kali berbicara tentang kekuatan Tuhan, terasa Dia sebagai sosok yang agung tapi sangat tegas. Syair-syairnya berusaha mendefenisikan Tuhan dalam kalimat-kalimat yang lugas dan tegas. Justru jauh dari gaya puisi sufistik yang cenderung “mendayu-dayu”. Namun, berbeda jika berbicara tentang umat beragama. Puisi-puisi Rio sarat kritikan. Bahkan menuding mereka penuh kemunafikan.

Dua topik tersebut jelas dipilih Rio bukan tanpa alasan. Dia seperti ingin membenturkan apa itu spiritualitas dan apa itu sekadar beragama. Spiritualitas Rio dalam buku tersebut adalah pengakuan terhadap adanya kekuatan Tuhan. Tapi, pada saat yang sama, dia menentang manusia yang bertindak sok tegas dan paling benar sendiri.

Seperti ingin mengatakan, Tuhan sudah merupakan kekuatan sempurna yang tanpa cela. Manusia tak perlu seolah-olah berkata atas namanya.

Selain hal-hal tersebut, Rio juga tak segan membahas aspek kesejarahan dalam Islam. Terutama para sahabat Nabi Muhammad. Ada dua sahabat yang digambarkan di dalamnya. Mereka adalah Ali bin Abi Thalib dan Ustman bin Affan. Terutama dalam masa-masa pertumpahan darah di antara mereka.

Meskipun begitu, pembaca harus dengan jeli menangkap detil-detil fakta sejarah dua tokoh besar umat Islam tersebut. Sebab, Rio memunculkan mereka tidak sebagai personanya. Tapi lebih pada fragmen sejarah yang mereka alami.

Meskipun begitu, Rio tak lantas jatuh dalam bahasa yang mendayu-dayu. Karakternya tegas. Bahasa yang lugas dan pilihan kata yang tajam.

Seperti ingin benar-benar memberantas kemunafikan manusia (yang mengaku) beragama tapi terlalu pongah untuk bahkan mendengar sesamanya.

 

Data Buku:

Judul: Balada Pencatat Kitab

Penulis: Rio F. Rachman

Penerbit: Penerbit Suroboyo

Cetakan: I, September 2016

Tebal: 60 halaman

Pembelian buku kumpulan puisi Balada Pencatat Kitab bisa dilakukan di SUROBOYO.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here