Bagaimana Menjadi Peminum Idealis dengan Ciu dan Cukrik

cukrik
Idealisme seorang penikmat minuman surga...

Yoiki, ajaib!

“Bagi peminum ideologis, menenggak ciu bukan hanya sekedar gaya hidup. Tapi ini perlawanan terhadap hegemoni barat atas maraknya produk minuman keras yang beredar di Indonesia,” ceracau salah satu narasumber dalam tulisan ini.

Tulisan di Liputan6 ini sungguh cerdas. Terdapat pesan bahwasannya minuman-minuman tradisional macam ciu Bekonang, ciu Banyumas, atau arak Bali harus terus dilestarikan.

Tradisi menenggak minuman macam ini bukan sekedar untuk mabuk-mabukan atau hura-hura. Menikmati minuman tradisional ini adalah sarana untuk meningkatkan solidaritas.

Boleh kita rasakan bagaimana kedekatan antar pribadi sesama penenggak miras berbeda dengan penyeruput kopi. Romantisme sesama pecinta minuman berakohol boleh dibilang lebih intim daripada gerombolan penikmat kopi.

Saya tidak mengerti apa alasannya, tapi boleh dibilang saya sependapat dengan argumen tersebut. 

Tidak perlu sok moralis tingkat pembela agama untuk menanggapi postingan saya ini. Di akhir tulisan tersebut, terdapat kesan bahwasannya minuman asal daerah berbahasa nasional ngapak itu kalau minuman tersebut selevel dengan bir Jerman.

Selain itu, boleh dibilang minuman yang bagi seorang puritan haram ini baik untuk pengobatan. Ah, jahatlah kalian yang terlalu moralis hingga kurang menjangkau mereka!

Mereka adalah suara-suara yang tidak mampu merengkuh kemewahan bar atau gegap gempita diskotik. Jadi tolong, hargai mereka yang berpesta diantara rimbun pohon belukar, pos kamling, samping rel kereta, atau gubuk-gubuk derita yang kian hari kian reot.

Jadi teringat sebuah puisi dari Romo Sindhunata perihal Ciu Cangkol, baiklah mari berpuisi ‘Cintamu Sepahit Topi Miring’. hidup tradisional! cheers!

kemana Ranto Gudel pergi
panggung selalu harum dengan arak wangi
Di Sriwedari jadi Petruk
Garengnya diajak mabuk
Bagongnya menggeloyor
Semarnya berjualan ciu cangkol
dengan terang lampu semprong
Pak Mloyo memukul kentong
Nongji Nong ro
giginya ompong menggerong
Ranto Gudel mendhem
nyungsep di Bengawan Solo
disana ia lalu menyanyi
itu perahu,riwayatmu dulu
kini sungaimu mengalirkan arak wangi
dengan harumnya aku mandi…

Jadi, apa kabar cukrik Suroboyo?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here