Alasan Kenapa Arek Suroboyo Kudu Kompak Dukung Persebaya

Sumber: Jawa Pos

Berita Surabaya – Jujur saja, saya bukan Bonek ataupun supporter fanatik Persebaya. Saya suka bola sekadar suka. Tidak terlalu menggebu-gebu. Meski memang, kalau di Indonesia, tentu klub yang saya sukai ya Persebaya. Kenapa? Karena KTP saya Surabaya.

Saya bukan penghobi bal-balan yang teramat sangat. Saat Timnas bertanding, saya merasa tidak wajib meluangkan waktu untuk menonton. Ya, sunah muakkad bolehlah.

Saya juga nyaris tak pernah melekan buat nonton liga Inggris, Spanyol, apalagi Abu Dhabi dan Nigeria.

Pas kuliah, saya pernah beberapa kali main bola di lapangan besar. Saya juga rutin futsal hingga lima tahun silam. Bahkan, di zaman-zaman masih muda dulu, saya kerap main futsal hingga tiga atau empat kali seminggu.

Nah, pas kawan-kawan bicara bola, saya biasanya hening sendiri. Meskipun, saya paham sedikit-sedikit.

Saya bisa menyebutkan minimal 15 pemain Brazil (starting eleven maupun cadangan) saat jadi juara piala dunia 1998. Lhah yo?! Koen seneng yo aku salah nulis, aku sengaja yo, ceg peno seneng.

Iyo-iyo, pas iku sing menang Perancis. Yo, maksudku kui, aku apal pemain-pemain Brazil dan Perancis sing main nok final piala dunia 1998.

Optimis Persebaya

Walau begitu, melihat konstelasi Persebaya, klub kebangaan Kota Pahlawan bertahun-tahun belakangan ini, saya pikir, orang seperti saya yang tidak gila-gila amat dengan bola, perlu menjadi kompak untuk bersama-sama mendukung Persebaya lahir batin. Optimislah, akan ada banyak efek positif di baliknya.

Dinamika klub yang belakangan dikenal pula dengan sebutan Persebaya 1927 ini, membuktikan bahwa ia seperti mengabadi di Surabaya. Supporternya kompak bukan main untuk mengantarkan tim meraih legalitas. Alhamdulillah, tercapai sudah.

Yang tak kalah menarik, klub kemudian juga dinahkodai oleh profesional yang sukses memasyarakatkan olahraga Basket dan Sepeda di Indonesia: Azrul Ananda, bos Jawa Pos, Si Presiden Klub Persebaya Indonesia.

Tulisan kali ini, merupakan opini saya terkait alasan, kenapa sih orang-orang seperti saya yang tidak senang-senang benar dengan Si Kulit Bundar, perlu tetap mendukung Persebaya.

  1. Mengerek ekonomi kerakyatan

Keberadaan Persebaya bakal mengerek ekonomi kerakyatan. Bakul klambi, mersendes, jersey, topi, syal, stiker, dengan model bajoel ijo dan sebangsanya bakalan makin eksis. Termasuk, arek-arek desainer, web developer, percetakan, dan industri kreatif lain juga tambah iyes.

Dengan catatan, kita saling melengkapi satu sama lain. Pakai falsafah koperasi, yang hanya bisa hidup karena anggotanya. Ekonomi kerakyatan hanya bisa bangkit, bila kita ikut menghidupkannya.

Tukuen, Rek, barange konco-koncomu sing bakulan iku. Mene mben, ganti urusan-urusanmu sing dilancarno sing Kuoso. Aamiin bareng-bareng yo…

  1. Bonek sudah profesional

Kalau sedulur sempat baca Jawa Pos, akan ada sejumlah hal yang tersirat maupun tersurat. Bahwa, Bonek bakal jadi sangat profesional. Salah satunya, melalui semboyan: No Ticket No Game. Nek gak nduwe tiket, Insya Allah, Bonek tidak akan menerobos masuk, yang potensial nggarai kisruh.

Di sisi lain, profesionalisme manajemen juga dipertaruhkan. Penjualan tiket mesti transparan dan gampang diakses. Biar sama-sama enak. Tidak menutup kemungkinan, akan ada pula program safety riding for Bonek, atau bahkan, beasiswa buat Bonek berprestasi.

Sejatinya, jauh sebelum hari ini, profesionalisme Bonek sudah terbukti sejak bertahun-tahun lampau. Konsistensi mereka untuk berjuang mengembalikan klub ke lapangan hijau tanpa tindak anarkis adalah kunci utama. Artinya, Persebaya sejak lama telah memunyai basis massa yang loyal dan berkomitmen.

  1. Biar terinspirasi suka olahraga

Mbiyen pas aku SMA nok SMA Pitu Ngaglik cideke satadion Tambaksari, aku seneng ndelok kartun neng TV7 jam enem sore judule Slamdunk. Peran utamane Hanamici Sakuragi. Gara-gara nonton iku, aku jadi suka basket atau olahraga.

Nah, gegoro nontok Persebaya, koen isok ae jadi seneng olahraga. Lumayan, awak sehat, ora bulat alias gak buncit.

  1. Seperti taman, Persebaya bisa jadi kebanggaan kota

Orang Surabaya kerap membanggakan taman-taman yang ada di sekujur kota. Padahal, belum tentu dia suka ke taman-taman itu. Nah, meh podo koyok iku dulur. Awakmu mungkin gak seneng nontok sepak bola. Tapi, karena Persebaya sudah turut menjadi identitas kota, sudah selayaknya kita berbangga.

Toh, seperti yang sudah disinggung, baik manajemen maupun supporter tergolong profesional. Saran dan kritik masyarakat, pasti bakal diterima dengan baik. Ke mana meluncurkan masukan-masukan konstruktif? Zaman saiki kabeh wong wes nduwe akun sosmed, dulur. Yo, kari layangno nok kono wae, lhak uwes.

Yang jelas, yo monggo doakan saja, Persebaya akan menjadi salah satu icon kebanggaan Surabaya baik di level nasional maupun regional. Opo maneh nek isok di level dunia!

Misale, Persebaya melbu dadi peserta piala dunia 2045, saat Indonesia berusia seratus tahun, kan mbois! #halah.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here