Akselerasi Produktifitas Minat dan Bakat di Pondok Sosial

Dulur-dulur di Pondok Sosial belajar menari

Berita Suroboyo – Anak-anak adalah permata bangsa. Masa depan negeri ini berada di tangan mereka. Maka itu, pemerintah wajib memberi perhatian pada perkembangan fisik dan mental para bocah. Semua anak harus mendapat atensi dari negara. Tak terkecuali, mereka yang diliputi problem sosial karena faktor ekonomi, keluarga yang kurang perhatian, maupun lingkungan hidup yang tidak kondusif.

Mereka kadang berada di jalanan atau tidak begitu dianggap oleh keluarga masing-masing. Tak jarang, mereka dipanggil dengan sebutan anak nakal/jalanan/terlantar oleh sebagian pihak. Selain itu, terdapat pula kelompok anak yang berkebutuhan khusus. Mereka ini juga mesti ditangani secara spesial.

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Sosial (Dinsos) melaksanakan banyak terobosan untuk mengentaskan permasalahan ini. Salah satunya, melakukan pemberdayaan dua pondok sosial. Yakni, Unit Pelaksana Teknis Dinsos (UPTD) Kampung Anak Negeri di Wonorejo, dan UPTD Kalijudan (bagi mereka yang berkebutuhan khusus).

Pada dua tempat itu, anak-anak tidak hanya dikumpulkan dan dipelihara. Mereka juga diberi fasilitas untuk menguatkan potensi, minat, dan bakat yang ada dalam diri. Dengan demikian, rasa percaya diri dan kemandirian generasi penerus yang ada di sana terus terasah.

Dinsos senantiasa melakukan penggalian minat dan bakat para penghuni pondok sosial. Tahap yang umumnya dilakukan adalah dengan wawancara secara mendalam terhadap anak-anak (bagi anak berkebutuhan khusus yang tidak bisa menjalani ini, tetap akan digali potensinya melalui tahap lain). Selain itu, dilakukan pula pengamatan secara komprehensif oleh petugas di masing-masing pondok sosial. Fokusnya, untuk mengetahui kecenderungan potensi terpendam yang dimiliki anak.

Hasil analisa dari penggalian minat dan bakat dijadikan dasar untuk menyusun serangkaian program penanganan. Dari situlah muncul kegiatan pemberdayaan dan pengembangan yang sesuai. Lahirlah aktifitas produktif dalam bidang olahraga, seni, maupun keterampilan lain seperti: memasak, membuat handy craft, bercocok tanam, dan sebagainya.

Anak kemudian difasilitasi dengan kegiatan pelatihan rutin dan sarana-prasarana pendukung. Melalui pendekatan ini, anak-anak lebih dapat menikmati alias enjoy untuk melaksanakan arahan dari Pemkot. Pasalnya, semua kegiatan benar berasal dari minat atau kesukaan mereka.

Yang harus digarisbawahi, kegiatan pelatihan atau pembekalan yang diberikan Pemkot melalui Dinsos selalu didampingi tenaga profesional. Jadi, tidak asal-asalan atau tanpa dasar yang jelas. Semua pakar yang dilibatkan memiliki kompetensi di bidang masing-masing. Bila tidak, hasilnya pun tidak bakal maksimal.

Sebagai tindak lanjut, anak diberikan kesempatan untuk mempraktekkan hasil latihan. Mereka diberi wadah untuk mengaktualisasikan karya. Sebagai contoh, melalui beragam acara pameran lukisan, bedah buku (bagi penulis novel atau karya sastra), diikutsertakan dalam event olahraga (balap sepeda, tinju dan lain-lain), serta lewat ruang-ruang ekspresi lain.

Terbukti sukses

Penggemblengan yang dilakukan Dinsos melalui dua pondok sosial terbukti membuahkan hasil manis. Anak-anak sanggup mengukir prestasi berdasar passion. Ini bisa menjadi bekal mereka di kemudian hari. Raihan tersebut sangat membanggakan dan dapat mengangkat harkat-martabat mereka di masa datang.

Sejumlah anak yang tercatat sudah sanggup mengukir prestasi antara lain, M. Ketut Purnomo. Dia adalah peraih beragam prestasi balap sepeda dalam sejumlah event. Misalnya, predikat peringkat III KONI Surabaya Pemula 2014, peringkat IV New Armad Open Pemula di Magelang 2015, dan peringkat II Trawas UP HILL RACE Pemula di Mojokerto 2015.

Koleganya, Hendra Putra Pangestu, juga atlit balap sepeda yang terus mengukir prestasi. Antara lain, peringkat II Piala KONI Surabaya SD 2012, Juara Piala KONI Surabaya SD 2013, Juara Piala KONI Surabaya Pee Wee (dibawah  15th) 2014, Juara KONI Surabaya Pee Wee MTB 2014, peringkat II Kejurnas LCC Road Race di Temanggung 2015, serta sempat berpartisipasi dalam PORPROV Ke V di Banyuwangi.

Selain mereka berdua, masih ada sejumlah anak hasil “karantina” pondok sosial yang berprestasi di bidang olahraga. Sebagian yang lain, masih berproses untuk dapat meraih hasil terbaik. Yang jelas, mereka semua melakukan pelatihan demi pelatihan dengan penuh semangat dan antusiasme.

Di bidang seni, ada bocah bernama Joshua yang sudah menelurkan novel berjudul Teka-Teki dan telah berkali-kali dibahas dalam sejumlah bedah buku. Sementara para pecinta seni lukis kerap mengikuti event baik skala regional maupun nasional. Antara lain, Pameran Mengelola Kemustahilan, di Balai Kota Surabaya 2012, Pameran Javanistart Julian Nylan Gallery di Jakarta 2013, Pameran Believe #1 di Balai Budaya Surabaya 2013, Pameran Hari Ibu di Balai Kota Surabaya 2013, dan Pameran Pasar Seni Jatim Expo di Surabaya 2014.

Eksibisi seni lukis lain yang mereka ikuti adalah Pameran Believe #2 di Gedung Perpustakaan BI Surabaya 2014, Pameran Javanisart di House of Sampoerna Surabaya 2014, Pameran Believe #3 di Gedung Perpustakaan BI Surabaya 2014, Pameran Javanisart Taksu di Hotel Bali 2015, Pameran Ruang Ungkap di Galeri DKS Surabaya 2015, serta Pameran Believe #4 di Orasis Art Galery 2015.

Arek-arek Pondok Sosial belajar melukis dan menggambar
Arek-arek Pondok Sosial belajar melukis dan menggambar

Sejumlah karya lukis anak-anak berkebutuhan khusus pun ikut mempercantik beberapa sampul novel/buku. Oleh karena itu, yang bersangkutan mendapat apresiasi berupa royalti. Tak heran, beberapa anak memiliki tabungan pribadi yang jumlahnya cukup banyak. Misalnya, ada bocah yang memiliki tabungan hingga Rp 18 juta, Rp 19 juta, hingga Rp 29 juta. Fakta ini menunjukkan, pelatihan yang digagas Dinsos bukan sekadar pepesan kosong atau program mubadzir yang menghabiskan anggaran belaka.

Mengubah paradigma

Program yang digagas Dinsos ini mustahil terlaksana tanpa bantuan dari banyak pihak. Selain mengacu pada sumber dana utama dari APBD, sejumlah elemen eksternal secara sukarela memberikan Corporate Social Responsibility guna melancarkan kegiatan ini. Pelatih profesional dan para pakar (termasuk, LSM dan Ormas) juga tak pernah bosan memberikan saran dan kritikan demi terwujudnya kegiatan yang berkelanjutan. Masyarakat umum pun berperan memberikan dukungan moral maupun material.

Di samping memberikan suntikan atau energi positif bagi anak-anak di pondok sosial, tujuan lain kegiatan ini adalah mengubah stigma. Paradigma negatif yang berpendapat bahwa anak jalanan/terlantar dan pengidap kebutuhan khusus merupakan beban masyarakat, mesti dikikis habis ke akar-akarnya. Sebab, mereka sejatinya bisa berprestasi dan membanggakan lingkungan sekitar.

Apa yang sudah dicapai anak-anak pondok sosial pun bisa menginspirasi orang lain. Paling tidak, ini menjadi pernyataan tegas bahwa keterbatasan bukan penghalang. Yang menjadi kunci paling fundamental dalam hidup, tetaplah bersemangat dan berkemauan keras untuk menjadi lebih baik.  (*)

(dikutip dari buku “Inovasi Pelayanan Publik Kota Surabaya 2014-2015” yang dibuat oleh Bagian Organisasi dan Tata Laksana Pemkot Surabaya, 2016)

BACA JUGA

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here