#8. Cerpen tentang Homoseks

Dalam perjalanannya berkeliling dunia, menjelajah setidaknya empat benua dalam tiga tahun belakangan, tak ada satu pun kolega dari luar negeri yang suka iseng bertanya privasi. Kawan-kawan di media sosial, asal Indonesia, pun lebih suka mengomentari foto-foto keren Safar Batutah di lokasi-lokasi eksotis. Atau, foto-foto saat dia memakai ikat kepala India, macak dodol manisan di sepur Pakistan, dan lain sebagainya.
Satu-satunya yang bertanya, dan tampaknya bukan iseng, tentang hal pribadi, adalah Ibunya sendiri. Melalui sambungan telepon yang terpancar pada sebuah malam Idul Fitri.

“Safar Batutah, anakku satu-satunya yang belum menikah. Kapan kau mau menikah?” kata Ibunya to the point.

Safar Batutah tak terganggu. Dia santai saja. Sekadar memberi jawaban normatif dan diplomatis, “Tenang, Bu. Jodoh itu di tangan Tuhan,” benar-benar absurd. Padahal, dia jarang-jarang nyembah Tuhan. Pas lagi ada maunya, nama Tuhan dibawa-bawa, buat tameng agar Ibunya tidak rewel.

Problemnya kemudian, tatkala Safar Batutah kembali ke tanah air. Dia mampir ke Surabaya, bertemu Cak Ri, dan mengobrol. Kawannya yang satu ini adalah koleganya saat dulu menjadi wartawan di sebuah tabloid Klenik.

Iseng-iseng, selepas mengobrol dengan Safar Batutah, Cak Ri menulis sebuah cerita pendek (cerpen). Dikirimnya ke sebuah koran lokal. Dimuat.

Di cerpen itu, Cak Ri menyebut sekilas tentang perjalanan Safar Batutah. Namanya, disamarkan menjadi: Farfar Tutahba.

Beberapa poin faktual dimasukkannya. Lebih banyak fiksi, tentunya. Nah, salah satu fiksi itu adalah, Farfar Tutahba adalah seorang homoseks. Bahkan, sesekali, berkenan saja Farfar Tutahba itu melakukan seks bebas dengan perempuan. Jadi ya, bisa saja dia jadi biseksual.

Saat dimuat, difotolah oleh Cak Ri halaman koran tersebut. Diunggahnya di fesbuk. Di-tag nama Safar Batutah. Dibaca oleh Ibu Safar Batutah yang membacanya atas rekomendasi adik Safar Batutah.

Alamak! Diikira benar pula cerpen fiksi itu.

Setelah cerpen itu dibaca Sang Ibu, dipanggillah Safar Batutah ke Tulung Agung. Pengelana itu diminta klarifikasi.

“Aduh, kau buat aku repot, Cak Ri,” demikian bunyi pesan WhatsApp Safaf Batutah pada Cak Ri.

Cak Ri memohon maaf. Dan, dia tahu, kawannya itu tidak marah. Hanya merasa lucu belaka.

Iseng, Cak Ri bertanya, “Tapi, kamu sebenarnya biseksual atau homo gak?”

“Rahasia,” balas Safar Batutah.

Tentu, Safar Batutah memberi klarifikasi yang menyejukkan pada orang tuanya. Meski saat berjumpa dengan Cak Ri, topiknya akan lain lagi. Mereka berdua kadang keterlaluan memang bila bercanda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here