#7. Traktir Teman ke Bali

Safar Batutah lahir dari sepasang anak manusia yang berdomisili di Tulung Agung. Ayah dan Ibunya ingin anak tersebut menjadi pengelana islami layaknya Ibnu Batutah. Sayang, pengelananya iya, tapi Islaminya masih patut dipertanyakan.

Bahwa Safar Batutah adalah orang Islam, itu tidak salah. Tapi, dia nyaris tak pernah melakukan ibadah ritual. Puasa Ramadan bolong-bolong. Bahkan, dia pernah mengatakan kalau agamanya adalah agama kebaikan. Dia tidak gamblang menyebut agama Islam.

Hobinya? Minum bir. Jadi, jelas Safar Batutah bukan orang yang cukup Islami. Eh, tapi ingat, dia tidak pernah merugikan orang lain. Tidak pernah mencuri, merampas pasangan orang lain, tidak pernah menghardik orang lain, gemar membantu, ramah, dan suka tersenyum. Bukankah hal-hal tadi juga Islami? Atau masih kurang memenuhi syarat buat dipredikati Islami?

Persoalan karakteristik Safar Batutah, tak beda dengan orang lain. Ada baik, ada buruk. Suka menolong, tapi kadang melakukan seks bebas dengan dalih suka sama suka. Duh, repot juga ya!

Kenapa mesti memgumbar libido kesana kemari? Tidakkah lebih baik menikah saja? Toh, Safar Batutah juga sudah punya pujaan hati.

“Nanti dulu menikahnya. Saya masih punya keinginan mengembara. Pacarku itu, keras kepala. Sama seperti aku, seh. Tapi, aku cinta,” ungkap dia pada seorang kawan saat ditanya, “Kapan Kawin?”

Safar Batutah pernah mentraktir dua kawannya liburan ke Bali. Semua gratis. Kebetulan, dua sobat itu adalah sahabatnya pas kuliah. Nah, selepas kuliah dan akhirnya jadi wartawan di sebuah tabloid klenik, Safar Batutah tak punya banyak waktu buat rekan-rekannya itu.

Sebagai penebus, dia memberangkatkan kolega-kolega itu untuk kemudian menjelajah Bali. Waktu itu, Safar Batutah dapat libur lima hari dari kantor. Oleh karena dua bulan penuh dia ngurus liputan Pilkada salah satu daerah.

Yang menarik, di Pilkada itu, konon, pertarungan dukun begitu marak. Serang-serangan ilmu hitam bergentayangan saban malam. Nah, hal-hal seperti itulah yang mesti diberitakan Safar Batutah.

Dari uang lembur itu pula, Safar Batutah mentraktir dua temannya. Ditambah, uang dari beberapa pasangan calon kepala daerah yang dia liput. Semua calon itu, memberinya “amplop” masing-masing di kisaran dua juta. Kantornya tentu tidak tahu. Dan, yang menarik, calon yang akhirnya menang, memberi Safar Batutah upeti tambahan sebanyak lima juta.

Hanya karena Safar Batutah memberitahunya, warna baju tidur yang digunakan calon lain di malam sebelum coblosan. Ya, warna itu kemudian disampaikan si calon yang akhirnya menang pada dukunnya. Si dukun, melakukan jampi-jampi khusus dan mengirim mantra tertentu, atas dasar warna baju tidur itu.

Calon yang didukung si dukun itu pun menang. Dukun di seberang, dianggap kurang hebat. Hmmmm, perspektif mereka benar-benar klenik.

Safar Batutah tak begitu peduli. Yang jelas, selepas momen Pilkada itu, dia bisa bersenang-senang sama kawan-kawannya. Bersama bule-bule asing di Pulau Dewata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here