#6. Jadi Turis di Vietnam

Di masa akhir perkuliahan, sewaktu deadline skripsi menjadi hantu, Safar Batutah jalan-jalan ke Thailand dan Vietnam. Ada sebuah catatan penting baginya. Bahwa backpacking, bukan sesuatu yang mudah-mudah dan enak-enak. Meski tetap saja san selalu: sangat menyenangkan baginya.

Dulu, dia pernah ke Singapura. Mastamin, penjamunya, benar-benar menjadikannya raja. Dikasih makan yang nyaman, tempat tinggal asoy, diajak jalan-jalan pakai mobil ber- AC ganda.

Di Thailand, dia benar-benar berpetualang. Kawannya, hanya menyediakan tempat tidur. Namun, Safar Batutah sudah merasa beruntung. Dan, dia sadar, inilah pengelanaan yang sebenarnya. Oh iya, selain tempat tidur, kawan Bangkok itu juga mentraktir bir Leo sepuas Safar Batutah.

Di Vietnam, lain lagi. Kawan “online” yang akhirnya dia jumpai masih berstatus mahasiswa. Hanya dua semester di bawahnya. Safar Batutah dijamu seadanya. Namun, yang menarik, Safar Batutah diajak nongkrong dan ngobrol dengan kawan-kawan dari teman barunya bernama Cho Yun itu.

“Aku bilang, ada teman turis dari Indonesia. Mereka mau belajar speaking bahasa Inggris denganmu,” kata Cho Yun yang mau tidak mau dikabulkan oleh Safar Batutah. Meskipun, saat itu, kemampuan bahasa Inggris Safar Batutah tidak terlampau bagus.

Di Vietnam, tepatnya Ho Chi Minh City, Safar Batutah benar-benar merasa seperti turis. Ya, dia memang turis. Namun, keberadaannya benar-benar laksana orang asing yang dihargai. Ditraktir oleh kawan-kawan Cho Yun selama dua hari.

Dan yang menarik, interaksi dengan Safar Batutah ini dijadikan bahan makalah tugas mata kuliah “Hubungan Internasional” di jurusan Ilmu Komunikasi tempat Cho Yun dan kawan-kawannya kuliah. Cho Yun dan kawan-kawan itu memang satu kelompok kerja.

Safar Batutah dengan senang hati membantu. Toh, dia juga diajak keliling kota oleh mereka. Meski dengan sepeda motor. Mereka mengeliling kota, yang kata Safar Batutah, tidak jauh berbeda dengan model Jakarta. Banyak gedung bertingkat, yang disisipi pula oleh perkampungan bahkan pemukiman kumuh.

Tidak ada minum bir di sana. Apalagi, free sex. Safar Batutah makan makanan sehat, minum minuman sehat, dan hidup dengan pola hidup sehat selama dua hari itu. Walaupun juga, tidak religius.

Saat secara iseng salah seorang kawan Cho Yun bertanya tentang agama yang dianutnya, Safar Batutah dengan sok bijak padahal sedang bingung berujar, “Agama saya adalah kebaikan,” senyum tipis terkembang.

Konon, dia banyak baca buku Budha. Namun, agama Islam yang dianutnya sejak lahir, ogah dia tinggalkan. Sementara, gaya hidupnya masih serampangan. Ibadahnya berhamburan entah ke mana saja. Shalat dan puasa? Dia masih kerap malas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here