#5. Ke Negeri Bebas

Selain ke Singapura dan Malaysia, di masa kuliah, Safar Batutah pernah menginjakkan kaki di negeri lain: Thailand dan Vietnam. Dia melakukan perjalanan itu sekali jalan, pada semester delapan masa kuliahnya. Di waktu-waktu genting itu. Tatkala kepalanya pusing memikirkan skripsi.

Dia nekat terbang ke Bangkok, tembus Ho Chi Minh City. Dua hari di Bangkok, dua hari di Ho Chi Minh. Pakai penerbangan murahan dari Juanda. Penerbangan yang waktu itu, sekitar awal 2009, lagi hobi membanting harga.

Di Bangkok dan Ho Chi Minh, dia memanfaatkan teman Couchsurfing. Seorang perempuan bertubuh dempal, menjamunya di Bangkok. Masih muda, sekitar 25 tahun.

Perempuan itu, entah masih perawan atau tidak, sempat menarik hati Safar Batutah. Maklumlah, katanya, di usia awal 20-an itu, Safar Batutah sedang di puncak pubertas. Lagi ingin-inginnya kawin, tapi tak berani menikah.

Perempuan bernama Jenny itu tidak cantik-cantik banget. Tentu, tidak sexy, karena agak gemuk. Namun, dandanannya yang menor dan “berani”, membuat Safar Batutah nyaris lupa diri.

Apalagi, mereka tidur sekamar di kost. Aduh!

Untung, Safar Batutah kuat menahan hasrat. Dia tidak ingin terlihat bodoh karena hawa nafsu.

Pagi, pukul 07.30, Safar Batutah sudah sampai di muka pintu kost Jenny. Dia paham tempat itu karena memang sudah diberi arah-arahnya oleh Jenny via email.

“Maaf ya, tidak bisa menemani. Kita ketemu lagi malam,” kata Jenny dengan senyum yang khas. Aroma mawar parfum tubuhnya menyeruak. Membuat Safar Batutah merasa segar meski belum mandi pagi.

Jenny memberinya kunci duplikat. Lalu, memberi tahu Safar Batutah di mana lokasi tempat mereka bisa jumpa malam itu.

Tak hanya mereka berdua. Namun, dengan beberapa kawan lain sesama pemilik akun Couchsurfing. Juga, kawan-kawan hobi nongkrong lainnya.

Safar Batutah masuk ke kamar kost Jenny. Mandi, memakan roti bakar suguhan, dan tidur sebentar. Tepat pukul 13.30, dia keluar kost dan jalan-jalan.

Hingga pukul 21.00, dia berjumpa dengan Jenny dan kawan-kawan lain. Di sebuah kafe tak jauh dari Pattaya. Botol-botol bir Leo berdiri tegak di meja bundar dengan ukuran besar. Gelas-gelas berisi es, dan tentu ada pula yang tidak.

Jenny, seorang peminum andal. Tapi, Safar Batutah, yang tidak suka merokok itu, jauh lebih hebat.

Mereka cukup mabuk saat sampai kost. Dan Safar Batutah, masih membawa sebotol lagi Leo. Untuk diminumnya di kost tersebut.

“Bila kami setengah mabuk, pikiran bisa tak terkendali. Lebih baik, aku mabuk berat sekalian biar setengah mampus,” pikiran Safar Batutah benar-benar jahanam malam itu.

Sejak hari tersebut, Safar Batutah paham, Thailand adalah negeri yang kelewat bebas. Dan, dia suka berada di sana. “Aku akan kembali ke sini, ya, ke sini,” desahnya saat sebelum lelap dengan kepala mau meledak. Bau alkohol laknat memenuhi ruang dan terasa begitu pekat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here