#4. Ingin Jadi Wartawan

Mastamin duduk santai di kursi malasnya. Safar Batutah, dan seorang saudara sepupu bernama Maryamah, duduk di sofa empuk. Mereka masing-masing menghadapi secangkir teh hangat tanpa gula. Racikan pembantu Mastamin.

Malam sudah menjelang. Di ruang tengah yang cukup besar itu, ada sebuah televisi layar datar. Namun, sengaja tidak dinyalakan, karena si empunya, Mastamin, ingin mengobrol dengan dua tamu yang baru tiba tadi siang.

“Sudah kuduga, tak kesulitan kalian ke rumah ni,” ungkap lelaki keturunan melayu berpaspor Singapura itu.

Dua minggu yang lalu, Safar Batutah menghubunginya melalui Couchsurfing. Mereka saling berinteraksi di dunia maya. Deal!

Mastamin, pemilik rumah dua lantai di apartemen yang cukup bonafit itu bersedia. Tak hanya bersedia, dia mau menjamu dengan cukup memuaskan.

Safar Batutah dan Maryamah turun di bandara. Atas petunjuk Mastamin lewat email, mereka naik kereta. Sampai tengah kota, mereka naik bis dengan nomor tertentu, dan langsung turun tepat di depan apartemen.

Di depan apartemen itu, mereka hanya berjalan sebentar, naik beberapa anak tangga, dan masuk elevator sekali, untuk mencapai ruangan milik Masmatin. Ruangan yang bersekat-sekat laksana rumah yang nyaman, dengan dua lantai.

Itulah kali pertama Safar Batutah ke luar negeri. Saat dia masih kuliah. Kali pertama serius berkenalan dengan orang di Couchsurfing.

Setelah menyeruput teh hangat di hadapannya, Mastamin berkisah tentang masa mudanya. Dan mimpinya, di masa paro baya itu.

Dengan dua anak, yang satu sudah jadi pramugari dan yang satu sudah kuliah magang semester akhir, dia merasa sudah rampung dengan anak-anaknya. Tabungan sudah lumayan. Ada seh utang. Tapi, kata perusahaan, kalau dia mati kapanpun jua, utang apartemennya itu sudah ditutup asuransi.

Mastamin dulu, saat muda, kerap berkeliling dunia. Perusahaannya sering mengirimnya ke Eropa, Amerika, belahan Asia Timur, bahkan Rusia. Perusahaan minyak kenamaan di Singapura.

Tak hanya untuk bekerja, tentunya. Kesempatan menjejakkan kaki di tanah orang, dipakai Mastamin untuk menikmati suasana, bercengkarama dengan penduduk lokal, dan menghayati kearifan setempat.

“Saat sudah tua begini, perusahaan sudah tidak mengirim awak ke luar negeri. Wajar. Karena, giliran yang muda lah,” papar lelaki yang tidak doyan merokok itu.

Dia juga sudah tidak berhasrat untuk keliling dunia. Keaktifannya di Couchsurfing, justru karena hanya ingin membiarkan orang-orang dari luar negeri, singgah di rumahnya. Lantas, bercerita, berbagi pengalaman, dan saling menyemangati. “Awak dapat banyak cerita dari berbagai belahan dunia, dari kawan-kawan yang datang itu,” kata Mastamin, matanya menerawang.

Hidup Mastamin berkecukupan. Dia masih bekerja nine to five. Malam itu, dengan sarung kotak-kotak dan baju kaos bertuliskan I Love SGN, dia menyarankan Safar Batutah untuk mencari pekerjaan yang memungkinkan dirinya berkeliling dunia.

Safar Batutah, yang di momentum itu menginap selama dua hari di rumah Mastamin, teringat pada satu profesi: wartawan. Ya, sejak hari tersebut, dia mulai membuat ancang-ancang untuk jadi wartawan. Karena agak sulit bagi mahasiswa bahasa seperti dia, kerja di perusahaan minyak, begitu pikirnya.

Di dua hari itu, yang kebetulan akhir pekan (Safar Batutah sampai di singapura Jumat siang), Mastamin mengajak dua tamunya keliling negara kota yang cukup mungil itu. Sekitar tiga jam, dan habis sudah jengkal tanah negeri itu dilintasi semuanya.

Termasuk, melintas di kawasan Geylang. Saat lewat di tempat itu, Maryamah bergumam mengancam di telinga Safar Batutah. “Jangan sekali-kali kau datang ke Dolly-nya Singapura ini. Aku laporkan ibumu,” batin Safar Batutah sempat heran, karena toh, suatu saat kelak, dia mungkin tidak akan pergi bersama Maryamah lagi. Sehingga, Maryamah tidak bakal tahu ke mana dia singgah di negeri-negeri orang.

Dan benar saja, kali itu adalah perjalanan pertama dan terakhir Safar Batutah dengan Maryamah. Ya, Maryamah memang bukan petualang sejati. Sementara di dunia backpakcing, hanya yang sejati yang bertahan dan berstamina menjelajah.

Oh iya, selain ke Singapura selama dua hari, mereka sempat singgah di Johor. Hanya jalan-jalan seharian, lalu ke bandara dan tidur-tidur ayam di sana. Untuk kemudian, terbang lagi ke Juanda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here