3R Pasar: Meraup Untung dari Sampah

Penjelasan tentang tahapan pengolahan sampah

BERITA SURABAYA – Masalah persampahan selalu menjadi topik menarik untuk dibahas. Khususnya, di kota besar seperti Surabaya. Betapa tidak, volume sampah kota ini selalu bertambah seiring peningkatan jumlah penduduk.

Salah satu penyumbang sampah terbesar di Kota Pahlawan adalah pasar tradisional. Maka itu, perlu ada penanganan yang serius di sana. Tujuannya, mengurangi jumlah sampah yang dipasok ke Tempat Pengolahan Akhir (TPA) Benowo.

Sudah menjadi rahasia umum, timbunan sampah di TPA Benowo makin hari makin membuat kuatir. Hingga 2015 lalu, volume sampah yang masuk mencapai sekitar 8.905 m³/hari. Luasnya yang 37,4 hektare, terus mengalami penyempitan lahan kosong. Nyaris semua sudah penuh oleh sampah. Pemkot Surabaya pun kesulitan mencari lahan baru untuk TPA. Sebab, tanah kosong di Surabaya terus menyempit karena dibangun pemukiman, sentra bisnis, ruang publik, hutan kota, dan lain sebagainya.

Tak sampai di situ, biaya angkut sampah pasar kerap mengalami peningkatan seiring naiknya harga BBM dan kebutuhan lain. Misalnya, pada 2014, untuk volume 14 m³ per kontainer dibutuhkan biaya sebesar Rp. 500.000 per angkut setiap hari. Setahun kemudian, menjadi Rp. 700.000 per angkut setiap hari. Berdasarkan rekapitulasi, biaya angkut yang dikeluarkan dari seluruh pasar tradisional hingga TPA Benowo mencapai Rp 76,712 per hari, atau sekitar 28 miliar per tahun. Bagaimanapun, diperlukan usaha untuk menghemat biaya tersebut.

Problem di atas membuat Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) memutar otak. Instansi yang berkantor di Jalan Menur itu mengajak PD Pasar Surya untuk berdiskusi. Tujuannya, mencari solusi penanganan sampah di pasar tradisional. Dari sejumlah pertemuan yang dilakukan secara intensif, tercetuslah gagasan untuk melakukan upaya 3R (Recycle, Reuse, dan Reduce) di pasar tradisional. Sebagai pilot project, dipilih enam pasar terlebih dahulu: Tambah Rejo, Kayoon, Pasar Kembang, Wonokromo, dan PIOS (pasar induk oso wilangun Surabaya).

Teknis Sederhana

Secara umum, gagasan ini sejatinya cukup sederhana. Teknisnya, semua sampah di pasar tradisional dipilah menjadi tiga. Pertama, sampah organik. Kedua, sampah anorganik yang bisa didaur ulang. Ketiga, sampah atau residu yang langsung di bawa ke TPA Benowo.

Sampah organik akan diolah menjadi pupuk/kompos atau media tanam tambahan untuk taman-taman DKP di seluruh Surabaya. Pengolahan dilaksanakan di pasar tersebut dengan menggunakan mesin cacah khusus. Itulah mengapa diperlukan pengadaan mesin cacah di sana. Supaya, pengerjaan dapat secara rutin dilakukan.

Sampah anorganik yang bisa didaur ulang, dapat ditabung ke bank sampah atau dijual pada pengepul yang umumnya beroperasi tak jauh dari Tempat Penampungan Sementara (TPS) di masing-masing pasar. Sampah yang dimaksud antara lain botol bekas minuman kemasan, kertas karton atau sejenisnya, kaleng, dan lain-lain. Pemilik tabungan adalah pedagang. Otomatis, keuntungan dari proses pemilahan ini bakal masuk ke kantong masing-masing pedagang.

Setelah dipilah, didapatkanlah sampah anorganik yang sudah tidak dapat didaur ulang. Sampah atau residu inilah yang akhirnya diangkut ke TPA Benowo. Sudah barang tentu, karena telah terjadi pemilahan, jumlah sampah yang dipasok ke sana mengalami penurunan.

Sosialisasi intensif untuk menjalankan program ini terus dilaksanakan sejak awal 2015. Tidak hanya oleh DKP dan PD Pasar. Namun juga, oleh para anggota dewan. Semua elemen tadi turun ke Pasar untuk memberi arahan pada para pedagang cara memilah sampah. Karena memang, pemilahan awal dilakukan oleh pedagang sendiri. Pada awalnya, pedagang merasa kerepotan untuk melakukan pemilahan. Namun, karena terus diberi pemahaman,  termasuk soal keuntungan dari pemilahan dari aspek penjualan sampah anorganik, kebanyakan pedagang akhirnya mau melakukan dengan kerelaan.   Terlebih, pihak Pemkot juga memberi teladan atau contoh nyata cara pemilahan sampah. Sekaligus, memberi pelatihan pada para pedagang. Sebagai sarana sosialisasi, disebarkan stiker tentang program 3R Pasar dan brosur mengenai bank sampah.

Selama 2015, program ini mendapat banjir apresiasi. Meskipun berangkat dari ide yang terlihat sederhana, dampaknya cukup besar dan kongkret. Inovasi yang bersandar pada visi misi wali kota Surabaya serta Perda No. 5 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Sampah dan Kebersihan ini sudah dikunjungi oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pekerjaan Umum, Puslitbang dan Universitas. Pihak-pihak tersebut mengacungkan jempol untuk program ini. Selain itu, media massa di bawah naungan Trans Corp pun sempat menyiarkan aplikasi 3R Pasar di televisi.

Keuntungan Berlipat

Program 3R Pasar ini akan terus disosialisasikan dan dipromosikan. Di satu sisi, jumlah pasar tradisional yang akan dijadikan sasaran bakal diperbanyak. Di sisi lain, besar harapan agar program ini dapat diduplikasi di daerah lain. Secara prinsip, semua pasar dapat menjalankan program ini. Bahkan, dengan detail dan  pengembangan tertentu,  hasil akhir sampah organik tidak hanya kompos. Bisa pula, berupa pakan ikan dan ayam, serta pupuk hayati.

Yang jelas, keuntungan berlipat akan didapat bila program ini terus berjalan. Sejauh ini, baik DKP, pedagang, dan PD Pasar Surya sudah sukses mereguk manfaat. DKP tercatat telah memeroleh bahan baku kompos sekitar 9 m³ per hari. Digunakan sebagai pupuk di seluruh taman Surabaya. Sehingga, tidak perlu ada alokasi APBD untuk pembelian pupuk. Terjadi penghematan anggaran sebesar Rp 2.630.640.250 per tahun. Dengan berkurangnya volume sampah secara signifikan, TPA dapat beroperasi lebih lama (karena tidak lekas penuh). Sedangan berkurangnya volume sampah anorganik dapat menghindarkan bumi dari kepungan pencemaran.

Sementara itu, penerapan 3R di pasar tradisional bisa menghemat biaya pengangkutan sampah PD Pasar Surya. Yang awalnya, pengangkutan sampah ke TPA Benowo dilaksanakan tiap hari, berubah menjadi tiga atau empat haru sekali. Kalau diambil rata-rata, terjadi penghematan anggaran sebesar Rp 168.000.000 dikali 6 pasar pilot project, atau sama dengan Rp. 1.008.000.000 per tahun.

Setelah ditelaah, diperkirakan sampah yang diangkut dari masing-masing pasar berkurang hingga 70 persen. Rinciannya, 40 persen teralokasi untuk kompos, 30 persen didaur ulang, yang keuntungannya diperoleh pedagang. Penjualan sampah anorganik para pedagang (baik melalui bank sampah atau pengepul), memberi penghasilan tambahan yang dapat dimanfaatkan untuk membayar retribusi bulanan di pasar. Pada bagian lain, langkah terobosan ini membuat pasar terlihat lebih apik,  bersih, tertata dan tidak kumuh dipandang mata.

(dikutip dari buku “Inovasi Pelayanan Publik Kota Surabaya 2014-2015” yang dibuat oleh Bagian Organisasi dan Tata Laksana Pemkot Surabaya, 2016)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here