#3. Dunia Mengelilingiku

Sejak duduk di bangku kuliah, Safar Batutah berkenalan dengan sebuah website backpacking internasional. Couchsurfing.

Dari sana, dia makin terinspirasi untuk berkeliling dunia. Sejak duduk di bangku kuliah, dia sudah menjelajah Indonesia.

Tidak ada satu weekend pun yang dijalankannya di Surabaya. Ya, setidaknya, nyaris semua akhir pekan, dia meninggalkan Surabaya. Kecuali, pas ada banyak tugas kuliah.

Dia pernah ke sebuah kota di Sulawesi, di mana salah satu kawan yang dia kenal dari dunia maya berada. Di sana, dia dan kawannya baru bisa makan, kalau sudah berhasil memancing ikan.

Hmm, asline bisa seh makan tanpa ikan, tapi ya sekadar sayur mayur pekarangan. Tak ada nasi. Yang ada singkong.

Demikianlah Safar Batutah menjadi paham, bahwa ada banyak kemewahan di dunia ini. Tergantung dari mana kita melihatnya, dan dalam posisi apa kita berada. Dari sini pula, rasa syukur sudah menyatu dalam darahnya.

“Waktu itu, dapat ikan kecil saja, sudah merupakan barang mewah,” katanya pada Cak Ri, kolega lawasnya, saat mereka berjumpa di warkop Embong Gayam.

Sebenarnya, Safar Batutah dan Cak Ri bertemu di warkop depan Grahadi. Namun, karena Safar Batutah lapar dan kepengen makan sate, sementara di sekitar Grahadi gak ada orang jualan sate, mereka pun pindah ke Embong Gayam. Di depan warkop Embong Gayam, ada gerobak sate keliling yang biasa mangkal.

Safar Batutah juga suka menjelajah sumatera tatkala libur akhir semester. Atau jalan-jalan di Bali, masuk dan keluar telaga tersembunyi. Berjemur di pantai bersama bule-bule kawannya di Couchsurfing. Atau mendaki gunung di seputaran Nusa Tenggara.

Hidup bebas seperti ini adalah keinginannya sejak kecil. Dia tidak begitu ingat dengan orangtua. Toh, batinnya, dia masih punya dua orang saudara laki-laki yang setia menemani orangtuanya di kampung. Cukuplah satu kakak dan satu adik itu berbakti dan menjaga dua orangtuanya yang, sekali lagi dia merasa beruntung, masih tergolong sehat sentosa di masa sepuh.

Selain menjelajah nusantara, selama kuliah dan ngekost di bilangan Karang Menjangan, Safar Batutah juga kerap disinggahi oleh kawan-kawannya sesama pemilik akun di Coucsurfing. Ada yang laki-laki, ada pula yang perempuan.

Sebenarnya kost nya menolak tegas kehadiran perempuan. Maka itu, dia memasukkan kawan perempuan ketika malam. Di kamar kost yang cukup luas untuk dua orang itu.

Kolega-kolega yang datang dan menginap itu, nyarissemua dari luar negeri. Dengan ragam agama. Pernah yang dari Afrika Selatan dan beragama Kristen, dari Amerika dan orang Yahudi, dari Italia dan beragama Katholik, bahkan dari Rusia dan atheis. Pernah pula, dari Pakistan dan penganut Islam. Juga, dari Iran dan mengaku Syiah.

Sebagaian orang yang mengklaim beragama ini, telaah Safar Batutah, bukan penganut yang baik. Mereka, sebagian saja, sekadar beragama di kartu identitas. Atau bahasa sinetronnya, agama KTP. Tapi pun, dia jarang melihat kawannya itu berdoa atau bersyukur pada Tuhan.

“Siapa tahu mereka berdoa dengan bahasa Ibu?! Dan kau tidak paham model ritualnya. Jadi, jangan sembarang menuduh,” kata Cak Ri mengomentari.

Di luar itu semua, Safar Batutah merasa, keterbukaannya pada kawan-kawan dari luar negeri untuk bergabung di kostnya yang sederhana ini, adalah sebagai upaya merintis mimpi keliling dunia. Dengan mencapai status yang baik di akun Couchsurfing, saat dia memulai petualangan di tanah asing, akan banyak pula orang-orang yang bakal menjamunya.

“Sebelum aku keliling dunia, aku ingin dunia mengelilingiku. Caranya, kubiarkan orang-orang asing menginap di tempatku, dan bercerita tentang dunia mereka dengan seksama,” papar Safar Batutah pada sebuah kesempatan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here