#2. Safar Minggat, Peta Dunia di Kamarnya

Safar Batutah pernah minggat dari rumah saat lulus SMP. Dia berkeras ingin melanjutkan sekolah di Surabaya. Kebetulan, ada rumah kakeknya di kawasan Ngagel Makam.

Ibu dan ayahnya tidak sepakat. Dia dimarahi habis-habisan. Dalil orangtua itu, umurnya belum pas. Tunggulah sampai kuliah.

Tapi, dia berontak. Dia mengurus sendiri keberangkatan ke Surabaya. Dengan alasan yang simpel: saya ingin pergi dari kota asal, saya ingin merantau.

Kebetulan, di tahun masuk 2002, nilai ebtanas murni sekolah-sekolah di Surabaya sedang anjlok. NILAI 37,8 pun bisa masuk SMAN 5, sekolah yang kata konon, terbaik se-Kota Pahlawan.

Sementara itu, nilai di luar kota Surabaya memiliki kasta lebih tiggi. Termasuk, nilai Safar. Dan, dia sukses masuk ke sekolah menengah atas negeri di kawasan Genteng.

Safar memang suka berpetualang. Apalagi, tatkala di Tulungagung, dia punya seorang paman, yang saat ini sudah meninggal. Paman itu beberapa kali mengajak Safar naik gunung. Penanggungan dua kali. Bromo satu kali. Semeru, satu kali, meski tidak sampai puncak. Usia Safar waktu mendaki, tentu masih remaja banget. Belum SMA, kok.

Paman itu adalah pendekar perguruan Pagar Nusa. Safar juga demikian. Sejak kecil, dia sudah jadi pesilat. Meski badannya kurus, tidak terlalu doyan makan, dia menguasai beberapa jurus mematikan. Dia tidak pernah ikut pertandingan, walaupun guru atau pelatih terus memaksa, karena menilai dia punya skill beladiri luar biyasa, untuk orang seumuran. “Berkelahi kok dipertandingkan. Yang menang, dapat hadiah. Kalau mau berkelahi, ya berkelahi saja,” kata dia pada suatu kesempatan.

Sejak bermukim di Surabaya, dia tinggal bersama kakeknya di Ngagel Makam. Selepas lulus SMA, dia ngekost di kawasan Karang Menjangan. Dia kuliah jurusan Bahasa Indonesia di kampus negeri yang ada di daerah itu. Saat lulus kuliah dan menjadi wartawan di sebuah tabloid klenik ternama yang berkantor di kawasan Ketintang, dia pindah kost pula ke dekat sana.

Kamar kost berpindah. Lingkungan berpindah. Namun ada satu hal yang tak pernah berubah dari kamarnya. Sejak SMA, di salah satu tembok kamar, Safar Batutah menempel sebuah peta dunia. Peta dunia itu dibawanya tatkala berpindah-pindah kost.

Entah mengapa, Safar selalu berbinar bila melihat peta dunia. “Aku akan berpetualang hingga taka da sejengkal pun sudut bumi yang tak pernah kutapaki,” demikian bunyi satu baris puisinya yang sempat dideklamasikan tatkala malam pentas seni di kampus.

Baca Juga: #1. Bermain Kupu-Kupu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here