#1. Bermain Kupu-kupu

Mulai hari ini, tiap Senin pertama dan ketiga saban bulan, rubrik Ngaso akan menyuguhkan cerita Seri Pengelana: Safar Batutah. Cerita-cerita seputar pengembaraan lelaki asal Tulung Agung yang sempat kuliah dan bekerja di Surabaya ini siap menghibur.


Waktu itu Safar kecil berusia sekitar 7 tahun. Pada suatu hari hampir senja, dia sudah dimandikan Ibunya, lengkap dengan sapuan bedak tebal di wajah. Kebetulan, hari itu dia sedang berada di rumah nenek, masih satu desa dengan rumah orang tuanya.

Pekarangan rumah nenek, tersambung dengan lahan persawahan. Yang suatu waktu ditanami padi, di masa lain ditanduri jagung, dan di momen setelahnya disemaikan bibit-bibit kacang kedelai.

Langit berpendar jingga muda saat Safar kecil bermain di halaman belakang rumah nenek dengan bedak tebal mirip tepung yang dilumurkan ke pisang sebelum masuk penggorengan. Dia melihat kupu-kupu warna ungu terbang syahdu. Terpesona, Safar berusaha meraihnya.

Mantan kepompong itu terbang menjauh, sementara Safar mengejar terus. Mereka melintasi persawahan, lewat jalan setapak. Aneh juga, kupu-kupu itu kok terbang di ruas jalan setapak, tanpa miber ngawur ke awang-awang tengah sawah.

Hari makin gelap dan Safar belum juga berhasil meraih binatang pujaannya. Lembayung makin pekat. Tanpa terasa, Safar makin jauh dari rumah nenek.

Safar tahu itu, namun dia ingin tahu kemana kupu-kupu itu akan pulang. Sayang, hewan indah itu tampaknya ogah bermain bersama Safar, atau ia sudah waktunya pulang.

Kupu-kupu terbang tinggi dan masuk ke barongan semak bambu. Sementara Safar mulai benar-benar sadar, kalau dia sudah lupa jalan pulang.

Sinar rembulan yang lamat, tentu tak bisa jadi penerang. Tubuhnya pun basah oleh keringat berkat kejar-kejaran selama dua atau tiga jam.

Tiba-tiba dia ingin duduk di rumput yang bercampur ilalang. Lantas, rebahan. Duh, kata dia, langit indah benar. Bintang-bintang mulai memamerkan pancaran hijau. Beberapa kunang-kunang yang warnanya mirip kelipan bintang melintas.

Safar ingin mengejar. Namun, dia terlampau lelah. Dia pun memejamkan mata. Dia merasa belum lama menutup inderanya itu, tatkala terdengar sari jauh, sayup-sayup, warga memanggil namanya. Memukul kentongan bertalu-talu. Membawa obor membelah lahan persawahan.

Jantungnya pun berdegup kencang. Dia yakin benar, sudah membuat panik banyak orang yang di masa itu, di desa Gondang, Tulung Agung, itu, belum konstan mencicipi lampu listrik. Obor adalah alat penerang utama di awal 90-an di kampung kaki bukit itu.

Merasa dicari, Safar berteriak sebisanya. “Saya di sini! Saya di sini! Saya di sini!” kata bocah yang merasa bersyukur akhirnya ditemukan itu, maklum, dia sejatinya sudah lupa jalan pulang.

Tak berselang lama, Ibunya menghambur. Memeluknya erat-erat sambil menangis. Perempuan itu seperti orang yang nyaris mati, tapi mendadak tidak jadi mampus.

Ada bahagia di hati perempuan itu. Bercampur kesal, sesal, dan rasa lega.

“Beberapa waktu lalu, aku ingat dengan kisah kenangan itu. Dan tampaknya, itulah pengelanaanku yang pertama,” kata Safar Batutah, pengelana yang sejak empat tahun lalu sudah menembus puluhan negara di empat benua.

Di kedai kopi depan Grahadi, dia tengah berbincang dengan kawan lamanya. Teman yang akrab dia panggil Cak Ri.

Mereka cukup berteman dekat. Sehingga saat Safar “transit” beberapa bulan di tanah airnya, dia merasa perlu berjumpa dengan kawan yang hanya terpaut tiga tahun lebuh tua darinya itu.

Ya, Safar kembali ke Indonesia mungkin hanya sepuluh bulan. Untuk kemudian, kembali berkeliling dunia. “Nggak enak juga lama tidak sowan orangtua. Makanya, saya pulang,” dalihnya.

Dia bekerja di sebuah radio swasta sekaligus guru pada sebuah sekolah internasional di Surabaya. Tiap akhir pekan, dia balik ke Gondang, Tulung Agung.

Tentu, pekerjaan yang dia geluti tadi hanya sementara. Karena dalam darahnya, bagi dia, tidak ada passion pekerjaan. Yang ada hanya gairah untuk mengembara. (*)

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here